Tentang Kami
Putri Kerahiman
Foundation
Visi
- Menunjukkan Belas Kasuihan Terhadap Setiap Orang Yang Sedang Susah
Misi
- Menyelenggarakan Pendidikan dan Pengasuhan Anak Yatim Piatu
- Menyelenggarakan Pendampingan Perempuan Janda
- Menyelenggarakan Perawatan Kesehatan anak-anak Yatim Pioatu dan Masyarakat yang kurang mampu.
PROFIL YAYASAN PUTRI KERAHIMAN PAPUA
Ketika Pemerintah Indonesia – pada masa sebelum Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden KH.Ma’ruf Amin – gencar melaksanakan pembangunan di berbagai wilayah dalam kawasan Nusantara, khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Bali, maka provinsi yang terletak di ufuk timur yaitu Provinsi Papua kurang diikutsertakan dalam pembangunan sosial-ekonomi, termasuk, misalnya infrastruktur berupa jalan darat, jembatan, pelabuhan laut dan bandar udara, baik antarkota, antardesa, maupun di pedalaman Papua. Mengingat sangat kurangnya fasilitas sosio-sekonomis, maka pada pada tahun 1992 di Sentani, Jayapura, kami mendirikan sebuah yayasan sosial yang diberi nama “Yayasan Putri Kerahiman Papua” (YaPuKePa) yang memiliki tiga tujuan utama yaitu :
Pendidikan dan Pengasuhan Anak : Menyediakan pengasuhan bagi anak-anak yatim piatu serta anak-anak lain yang keluarganya secara ekonomis tidak mampu membesarkan mereka dalam pangkuan keluarga sendiri melalui pendidikan yang menjadi hak setiap anak.
Pendampingan Perempuan Janda : Mendampingi perjuangan hidup janda-janda (yang ditinggalkan suaminya akibat kematian) serta ibu-ibu yang telah ditinggalkan oleh suaminya (yang masih hidup) akibat perceraian rumah tangga.
Perawatan Kesehatan Masyarakat : Memungkinkan orang yang tak mampu dari segi ekonomi untuk mempertahankan atau memperoleh kembali kesehatannya.
Tempo dulu bagi ketiga kelompok orang tersebut di atas, keluarga masih berfungsi sebagai “sabuk keselamatan”. Namun dewasa ini tidak lagi demikian. Alasannya ialah urbanisasi dan kemajuan. Tentang dua hal yang disebut terakhir ini, dapat dijelaskan sebagai berikut :
Mengenai urbanisasi : mayoritas penduduk Kota Jayapura, sampai 90%, datang dari luar kota ini, entah transmigran lokal (orang Papua) entah pula transmigran dari luar Provinsi Papua (nonPapua) yang secara sosio-ekonomis terpinggirkan di Kota Jayapura. Kelompok masyarakat yang terpinggirkan itu adalah terutama Orang Asli Papua. Di Kota Jayapura, mereka tidak dapat lagi dengan sendirinya bersandar pada sistem sosial dari kehidupan tradisional orang Papua. Di zaman lampau, warga sekampung dan famili (keluarga besar dalam satu rumah suku) masih dapat memberikan jaminan bahwa mereka yang sedang susah itu ditampung dengan baik dalam pangkuan marga dan desanya itu. Tetapi dewasa ini, di sebuah kota seperti Jayapura, orang tidak lagi berada dalam lingkungan asalnya sendiri. Jangankan kaum kerabat dekat, orang-orang semarga pun sering tidak mereka temukan di kota ini. Kondisi ekonomi mereka sendiri terlihat begitu rapuh sehingga tak mungkin baginya untuk juga saling menanggung bebannya dengan ikut memikul masalah yang dialami sesamanya. Relasi keluarga dan marga yang dulu di tempat asal begitu normal, sekarang ini di hampir semua ibu kota kabupaten seProvinsi Papua (tidak hanya Kota Jayapura) telah hilang menuju kepunahan.
Sedangkan terkait dengan kemajuan dapat dijelaskan bahwa pembangunan yang gencar dilakukan pemerintah di hampir semua bidang kehidupan, seperti sosial-ekonomi dan infrastruktur dibarengi dengan migrasi masyarakat dari luar pulau Papua, setidaknya telah memunculkan persoalan baru yang secara khusus dihadapi oleh kaum perempuan dan anakanak yang diketahui sebagai kelompok paling lemah dan rentan dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Tidak jarang terjadi bahwa seorang pria (suami) yang secara ekonomis telah mapan dalam pekerjaan dan penghasilannya, mengambil baginya isteri baru, sementara Isterinya yang pertama dari perkawinan yang sah (secara agama dan adat) ditinggalkan begitu saja dan seringkali suami ini meninggalkan dan menelantarkan juga anak-anaknya yang masih kecil.
Termasuk kemajuan pula adalah bahwa, terdapat beberapa keluarga di Papua memiliki pendapatan rumah tangga yang tergolong mencukupi sehingga dapat pula membagikan atau menyumbangkan sedikit dari rejeki keluarga mereka ke panti dalam bentuk in-kind (beras, mie instant, perlengkapan mandi-cuci dan sebagainya) ke panti asuhan ini, namun demikian, sumbangan in-kind yang mereka berikan itu tidaklah sebanding dengan besar dan banyaknya kebutuhan penghuni panti setiap hari. Begitu pula, sumbangan tersebut tentu saja diberikan pada waktu–waktu tertentu saja (temporal), tidak berkesinambungan. Memang benar bahwa dalam masyarakat tradisional di Papua, sebuah keluarga secara ekonomis dapat menghidupi anggota keluarga inti bersama sanak-saudara sesuku serta kenalan lain yang tinggal bersamasama mereka di dalam rumah itu, namun keluarga inti ini sebenarnya memiliki pendapatan “pas-pasan” – yang hanya sebatas pemenuhan hidup “seadanya saja”. Hal ini tentu saja akan sangat sulit bagi mereka untuk “berbagi rejeki” lagi ke panti asuhan ini.
Demikianlah sedikit informasi tentang latar belakang mengapa kami pada tahun 1992 – ketika mendirikan Yayasan Putri Kerahiman Papua – membuka panti asuhan “Hawai”. Pada tahun awal, jumlah anak hanya sepuluh orang. “Panti” di mana anak-anak waktu itu diasuh dan didampingi merupakan sebuah rumah tinggal yang belum selesai dibangun – masih dalam tahap penyelesaian pembangunan. Rumah itu kami sewa dengan harga murah sambil mengusahakan penyelesainannya. Dalam lintasan tahun, dengan bantuan penderma, Yayasan berhasil membeli sebidang tanah dan mendirikan beberapa bangunan yang sekarang dihuni sekitar 130 anak dan sejumlah orang dewasa. Usia anak-anak bervariasi, dari usia kanak-kanak sampai dengan remaja SLTA. Panti mempunyai sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) sendiri yang sejak semula menerima juga anak-anak dari masyarakat sekitarnya. Anak yang lebih besar, mulai dari klas I sampai dengan klas VI Sekolah Dasar, belajar di sekolah-sekolah di kota Sentani – ibu kota Kabupaten Jayapura. Anak remaja menjadi siswi dan siswa SMK Santo Yosef Nazaret yang didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, pada tahun 2020 melalui bantuan Kementrian Pendidikan, sekolah ini berjalan dari tahun 2021 hingga saat ini dengan membuka dua jurusan yaitu : Kemaritiman Air Tawar dan Agrobisnis Pertanian.
Pendiri Yayasan Putri Kerahiman Papua : Pastor Nico Syukur Dister, OFM
Pendiri
Pastor Nico Syukur Diester, OFM
Suster Mariechen Warson, DSY
Fasilitas Putrikerahiman
Tempat Ibadah
Gedung Konser
Ruang Belajar